DINAMIKABERITA.COM, BATULICIN – Bagi delapan awak kapal Tugboat (TB) Equator 10, malam Minggu di tengah Laut Jawa hampir saja menjadi perpisahan terakhir mereka dengan keluarga. Namun, takdir berkata lain saat siluet raksasa KM Kelimutu muncul di cakrawala, membawa harapan baru di tengah kepanikan akibat bocornya kamar mesin kapal mereka.
Aksi penyelamatan heroik yang dilakukan kru kapal milik PT PELNI (Persero) pada Sabtu (17/1) malam ini, bukan sekadar prosedur evakuasi biasa. Ini adalah tentang memastikan delapan orang pelaut bisa kembali memeluk anak dan istri mereka di rumah.
Bertaruh Nyawa di Kamar Mesin Bayangkan kepanikan di atas TB Equator 10 saat jarum jam menunjukkan pukul 18.45 WITA. Di tengah kegelapan malam, air mulai masuk dengan cepat ke ruang mesin. Sinyal darurat dikirimkan melalui Radio VHF Channel 16, sebuah panggilan putus asa di tengah luasnya lautan.
Panggilan itu ditangkap oleh KM Kelimutu. Nakhoda Capt. Meiardi Baruna Negara segera mengubah arah pelayaran yang semula menuju Batulicin. Baginya, jadwal sandar bisa ditunda, namun nyawa manusia tidak bisa menunggu.
“Keselamatan jiwa manusia selalu menjadi prioritas utama kami di laut,” ujar Capt. Meiardi. Kalimat singkat ini menjadi pembeda antara tragedi memilukan dan kabar bahagia bagi keluarga korban.
Selama hampir tiga jam, kru KM Kelimutu bekerja dalam koordinasi yang ketat. Tim darurat yang dipimpin Mualim I berjuang melawan waktu dan kondisi laut malam hari untuk menjemput satu per satu awak tugboat dari ancaman tenggelam. Tepat pukul 21.42 WITA, keajaiban itu tuntas: delapan orang berhasil dievakuasi tanpa luka sedikit pun.
Saat KM Kelimutu akhirnya bersandar di Pelabuhan Batulicin pada Minggu pagi, delapan pelaut ini turun dengan langkah penuh syukur. Mereka yang tadinya terancam hilang di laut, kini sedang bersiap memberikan kabar lewat telepon kepada keluarga bahwa mereka dalam keadaan selamat.
Kepala Cabang PELNI Batulicin, Anita Lestari, menyampaikan bahwa keterlambatan kapal selama satu jam di pelabuhan menjadi tidak berarti dibandingkan dengan keselamatan nyawa.
“Alhamdulillah, mereka selamat. Meskipun jadwal keberangkatan tertunda, para penumpang kami justru merasa haru karena mereka tahu, berkat kesabaran mereka, ada delapan keluarga yang tidak jadi kehilangan sosok yang mereka cintai,” tutur Anita.
Kisah dari KM Kelimutu ini menjadi pengingat hangat bahwa di balik kerasnya dunia pelayaran, ada komitmen kemanusiaan yang teguh. Berkat aksi cepat ini, delapan “Kado Keselamatan” telah dikirimkan kembali ke rumah masing-masing.












